Konsolidasi bisnis code division multiple access (CDMA) antara PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) akan memengaruhi peringkat kedua perusahaan. Ini menyusul terbukanya potensi manfaat finansial untuk keduanya. Selain itu, sinergi kedua perusahaan juga bisa mengurangi perang tarif.
“Meski detail transaksi belum dibuka, Fitch berpandangan, konsolidasi antara dua operator CDMA terbesar ini akan menguntungkan industri telekomunikasi Indonesia dengan melihat tingkat kompetisi akhir-akhir ini,” ujar Marchelius Mario, Associate Director Fitch Asia Pacific Corporate, dalam siaran persnya kemarin.
Menurut dia, konsolidasi akan mengurangi tekanan tarif antara kedua operator dan menyediakan sinergi pemasaran, peningkatan skala ekonomi dan mengurangi belanja modal ekspansi. Per Desember 2009, pelanggan Telkom Flexi mencapai 15,1 juta sedangkan Bakrie Telecom melalui Esia mencapai 10,6 juta. Gabungan kedua entitas tersebut akan melahirkan operator nirkabel terbesar keempat di Indonesia, setelah PT XL Axiata Tbk yang memiliki pelanggan 31,4 juta. Baik Telkom Flexi dan Bakrie Telecom beroperasi di kanal 800 megahertz (MHz) berdasarkan teknologi CDMA 2000 1x dengan bandwidth 5 MHz.
Karena itu, konsolidasi memungkinkan sebagian porsi bandwidth itu dipakai untuk ekspansi di bisnis broadband nirkabel yang kini memotori pertumbuhan operator seluler nasional.
Marchelius juga menilai, konsolidasi akan menciptakan diversifikasi geografi yang lebih baik di Indonesia karena saat ini terjadi tumpang-tindih basis pelanggan dan cakupan layanan keduanya. “Kebanyakan pelanggan Bakrie Telecom bertempat tinggal di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, sedangkan basis Telkom-Flexi dan cakupan layanannya lebih luas dari sisi lokasi geografi,” ujarnya.
Fitch mencatat, industri telepon nirkabel Indonesia kini sangat ramai dengan jumlah pemain mencapai 10 perusahaan hingga akhir 2009. Total pelanggan hingga akhir 2009 mencapai 190 juta, sehingga implikasi penetrasinya mencapai 82%. Namun, Fitch ,memperkirakan penetrasi riilnya di bawah 50% dengan memperhitungkan jumlah simcard ganda.
Khusus untuk industri CDMA, tumbuh cukup pesat sejak diperkenalkan pada 2003. Namun, bisnis operator CDMA sempat tergerus oleh perang tarif operator GSM pada 2008. Pelanggan CDMA tercatat masih cukup kecil yakni hanya sekitar 17% dari total pelanggan nirkabel pada akhir 2009 meski sudah mencatat pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir.
(whisnu bagus)

